Album of The Day: Gary Go - Self Titled

Photobucket
Saat pertama kali mendengarkan Gary Go dan membaca review single-nya, daku tanpa banyak kompromi langsung memberikan label SUKA ke lagu yang berjudul Wonderful tersebut. Ku ibaratkan lelaki ini sebagai a breath of fresh air dalam industri musik. Meskipun musik yang diusungnya pop-rock khas inggris, alias brit-pop dengan bonus belaian akustik dan alternative. Pokoknya menjadikan Gary Go sebagai salah seorang British Pop Male Vocal Idol!
Garry Go terlahir dengan nama Gary Baker 24 tahun yang lalu. Penyanyi asal british ini ternyata enggak bisa dibilang baru begitu saja. Untuk label major, oke-lah kita sebut dirinya new comer. Tapi rupanya Gary Go sudah mulai mengeksiskan diri sejak tahun 2006, dimana dirinya nimbrung ke dalam proyek The Diary of Rodney Harvey dengan 3 lagu. Berikutnya, di tahun 2007 adalah awal dari dunia yang terang benderang baginya. E.P yang berjudul So So membuat dirinya ditarik oleh produser di New Jersey yang berikutnya memuluskan jalannya dikontrak oleh Decca untuk merilis album perdananya! Yang membuat dirinya juga semakin eksis adalah ikutan dalam konser tur The Script, The Fratellis, The Feeling, Take That dan Amy Macdonald. Enggak tanggung2, daftar berikutnya adalah menjadi pembuka di tur Eropa Lady GaGa.
Wonderful yang sebelumnya sudah dipaparkan menjadi sebuah single yang imajinatif, memang benar adanya. Berikutnya, Open Arms. Satu lagu yang aku suka di album ini. Vokalnya begitu british. Itu mungkin yang membuat album ini terdengar original. Tapi di beberapa lagu memaksa kita untuk berpikir, suaranya mirip siapa ya? Atau musiknya persis siapa ya? Ini pasti karena brit-pop dan aksen british nya. James Morrison, Chris Martin, meski enggak separah Tom Chaplin. Tapi tetap aja penanda dari mana dirinya berasal. Dengarkan Life Gets In The Way, Refuse To Lose, dan Heart and Soul. Di ketiga lagu itu aku bisa bilang moments of full melody.
Dari 11 lagu yang diberikan, aku bisa bilang yang menarik perhatianku adalah Brooklyn. Hanya diiringi piano di awal, aku sangat menunggu lagu ini menjadi sebuah karya klasik dari Gary Go. Di pertengahan, iringan orkestra mulai menjamah. Disinilah letak kepintaran seorang Gary. Dia mampu menyeimbang mood pendengar dalam sebuah lagu. Dia juga mampu memainkan emosi dalam cara bernyanyinya. Sebenarnya bukan hanya bernyanyi keahliannya, Gary Go juga mampu bermain piano dan gitar. Bukan hanya itu, ternyata dia juga seorang produser!
Single ketiga yang dijadwalkan untuk dirilis adalah lagu berjudul Engines. Sebenarnya aku masih kurang setuju. Karena melodi yang hendak dijual masih sama dengan single sebelumnya. Mestinya diirnya sedikit lebih bijak memilih lagu yang lain, semisal Speak ataupun Black and White Days. Tapi mungkin kebijakan manajemen dan label juga.
Dengan semua positif thinking dan segenap rasa suka, kuberikan 4 bintang dan sejuta logo most wanted ke album yang dirilis 25 Mei 2009 ini.
(Ai Hasibuan / Creative Disc Contributors)
utk Track List “Gary Go” click…

Read More

Album of The Day: Ken Hirai - Ken's Bar II

Photobucket
Apa yang menyebabkan album Ken’s Bar bisa sampai menduduki posisi nomor 2 dalam chart lagu Oricon di Jepang? Jawabannya sederhana. Kerja keras dan totalitas untuk menghasilkan sesuatu yang berbeda dan berkualitas. Mengulang konsep yang sama untuk album Ken’s Bar yang dirilis di tahun 2003, sekarang kita bisa menikmati installment yang kedua lewat album Ken’s Bar II.
Dalam album Ken’s Bar II, kita akan diajak masuk ke dalam suasana ”bar” atau ”lounge” yang ingin disampaikan oleh Ken. Sayapun merasakannya. Dengan perombakan total lagu-lagu didalam album ini, membuat gambaran suasana bar yang gelap, akrab, syahdu, pelan-pelan mengalir melalui track-track dan suara Ken Hirai. Versi hiperbolanya? Saya seperti berada di dalam bar-bar tempat para mafia dalam film The Godfather sedang berkumpul dan memutuskan untuk membunuh siapa lagi kali ini.
Saya suka konsep opening tracknya, suara orang-orang berbicara dan menggumam kemudian ditimpa dengan suara orang berjalan didalam suatu ruangan. Saatnya diam dan mendengarkan appetizer pertama dari sang artis. Track Even If (Instrumental), kemudian hadir tanpa rasa dan membiarkan penasaran semakin membuncah. Seperti apakah penampilan sang artis?
Jawabannya adalah sebuah malam yang sempurna di sebuah lounge ditemani dengan lagu-lagu berkualitas yang dirombak total. Salah satunya adalah track ”LOVE ~Destiny~” milik Ayumi Hamasaki. Dibantu oleh iringan piano Masaru Suzuki, pelan-pelan karakter vokal Ken semakin menguat dan terdengar sangat superior. Waktu selama 5 menit 15 detik menjadi sangat pendek ketika menikmati track ini. Selama itukah?
Haha! Itulah salah satu keistimewaan album ini. Sulap yang diberikannya untuk menghadirkan suasana ”lounge” begitu pekat dengan track-track panjang tetapi tidak membosankan. Dengarkan saja “New York State of Mind” milik Billie Joel. Diiringi alunan piano, Hirai berusaha memunculkan suasana yang baru selama 6 menit penampilannya. Dengan konsep piano solo di beberapa bagian dan vokal yang semakin menghayati di bagian akhir lagu. Mantap!
Album ini bisa dibagi dalam dua bagian. Secara konsep serta komposisi album. Secara konsep, Ken Hirai berusaha mengcover lagu-lagu dari Jepang seperti track ”Shiroi Koibitotachi”, track ”Boku ga donna ni kimi wo suki ka, kimi wa shira nai” dan track ”Wakare uta”. Tak lupa juga ada lagu-lagu dari barat yang menrupakan kesenangan dari Ken Hirai. Seperti “Lately” dari Stevie Wonder, “Desperado” milik the Eagles sampai “Because Of You” milik Ne Yo.
Secara komposisi, album ini terdiri dari track-track yang lembut pada setengah perjalanan pertama. Setelah track ”Intermission” barulah track-tracknya tidak didominasi oleh iringan satu alat musik saja, tetapi merupakan satu komposisi lengkap dengan tambahan dua sampai tiga alat musik lainnya.
Ada beberapa track yang sangat kuat dalam album ini. Seperti ”Shiroi Koibitotachi” yang merupakan lagu dari Keisuke Kuwata, frontman band kesayangannya Southern All Star. Konsep lagu rock dalam versi aslinya langsung dibuat luruh dengan suasana ballad plus range vokal Ken Hirai yang bermain di pitch-pitch tinggi. Plus track ”Heart of Mine” yang merupakan lagu milik the Boz Scaggs. Dengan konsep mid-tempo jazz, Hirai berusaha hadir dengan modelnya sendiri. Alunan terompet dan suara smooth Ken Hirai plus suara dua pada bagian reffrain membuat track ini sangat memorable. Track ”Because Of You” yang dipilih sebagai single perdana pun hadir dengan bentuknya sendiri. Walaupun orang tahu ada banyak ”beat” yang hilang ketika sebuah lagu R&B di convert dalam bentuk ballad, rasanya Ne-Yo tidak akan keberatan dengan lagu ini. Karena dari segi emosi, track ini menghadirkan warna yang sama.
Saya agak teriritasi dengan track ”Wakare uta” karena rasanya agak miss-cast dalam album ini. Konsep albumnya agak hilang dengan suasana folk digabung dengan suasana country dalam track ini. Penampilan Masamune Kusano justru membuat vokal Ken menjadi tertindih dan menjadi tidak jelas. Penampilan duet juga dihadirkan melalui track ”Lately” dengan penampilan Frank McComb. Bermain di daerah middle, kedua karakter vokal ini membangun image yang dulu ditampilkan oleh Stevie Wonder. Dengan masing-masing memainkan porsi yang pas, track ini terasa sangat nyaman ditelinga.
Overall album ini layak menjadi salah satu koleksi. Kalau anda jenuh dengan suasana ”lounge” dan bertemu banyak orang, silahkan ambil album ini dan hadirkan suasana itu hanya milik anda sendiri. Walaupun belum bisa menyamai ”nyawa” lagu yang ditawarkan oleh penyanyi aslinya, toh setidaknya vokal Ken Hirai yang kuat bisa menjadi signature tersendiri dalam membawakan karya-karyanya.
(iQko / CreativeDisc Contributors)
utk Track List “Ken’s Bar II” click…

Read More

Album Of The Month: Jordin Sparks - Battlefield

Photobucket
Review By Joe Ari.
Apa yang kalian harapkan oleh gadis yang tahun ini genap berusia 20 tahun, melalui album keduanya ini? Perubahan yang total dari segi musik? Lirik? Tentu saja, memang tidak salah, karena saya pun berharap demikian. Debut album self titlednya pun lumayan sukses, dan menelurkan beberapa hit single di chart, dengan penjualan album yang tidak mengecewakan juga tentunya. Memadukan unsur musik R&B, pop, pop-dance dan pop-rock, membuat album ini menjadi campur aduk. Apakah ini terlalu cepat untuk jeboan AI ini merubah konsep musik dari sebelumnya yang hampir semuanya bergarap R&B? Mari kita selidiki lebih jauh. Battlefield, album kedua yang masih diproduseri dengan produser yang sama, Harvey Mason, Jr. and Claude Kelly serta tidak ketinggalan untuk mendapatkan pengalaman baru untuk meramu albumnya, Jordin juga bekerja sama dengan produser, penulis dan pencipta hitmakers yang diincar semua penyanyi, khususnya penyanyi perempuan, yakni Ryan Tedder, Dr. Luke dan Toby Gad. Tampaknya Jordin Sparks berusaha keras agar terlihat matang, terbukti dengan usahanya yang cukup gigih memaksimalkan kemampuan vokalnya, dan juga keterlibatannya langsung menciptakan beberapa lagu. Dibuka dengan “Walking on Snow” yang cukup menghentak dan ceria, sebagai pembuka yang segar. Dilanjutkan dengan “Battlefield” yang menjadi single pertama, dan langsung menjadi single kesukaan saya, dimana Jordin mulai mengasah kemampuan vokalnya lebih tinggi, namun karena terlalu dipaksakan, membuat single ini terdengar tanggung, meski musik dan lirik pada lagu ini sudah maksimal, dan dominasi Ryan Tedder sangat terasa pada lagu yang berbalut dengan pop dan rock ini, sebetulnya berpotensi menjadi hits jika Jordin bisa mengimbangi dengan memaksimalkan vokalnya. “Don’t Let it Go to Your Head”, “It Takes More”, dan “No Parade” merupakan kedua lagu yang tidak berbeda jauh dari segi musik. “S.O.S. (Let the Music Play)”, “Watch You Go”, Emergency (911) beberapa track dengan beat mid dance tempo yang masih cukup asik untuk dinikmati. Alunan piano pada intro track “Let It Rain”, dan “Faith” bukan merupakan lagi gospel. Dengarkan “Was I the Only One” single ballad yang sangat asik, setelah jenuh dengan beberapa track yang sebelumnya. Ditutup dengan “The Cure” yang masih sama dengan track sebelumnya. Jordin Sparks sendiri mengatakan bahwa album keduanya ini meneritakan tentang, kekuatan, kegigihan dan sesuatu yang baik hingga menjadi yang buruk, dalam detilnya ini bisa berhubungan dengan keluarga, persahabatan dan pekerjaan. Secara keseluruhan, album ini memang berbeda dengan album terdahulunya, namun sangat membosankan jika harus didengarkan terus menerus. Tetapi dari segi pengahayatan vokal dari wanita satu ini sangat luar biasa, dan mendapat acungan 1 jempol dari saya dan tidak terasa rugi mengkoleksi album ini, dan secara keseluruhan lagi, album ini lebih baik dari album yang pertama. Sesuai judul albumnya, Battlefield, apakah album ini siap menghadapi peperangan yang sesungguhnya? Kita lihat saja, but overall, highly recommended.
Untuk Track listing Battlefield, klik:

Read More

Album of The Day: Passion Pit - Manners

Photobucket
Review By Luthfi
Band yang awalnya merupakan proyek iseng dari Michael Angelakos dia membuat empat lagu untuk pacarnya di hari Valentine yang nantinya bakal menjadi sebuah EP bernama Chunk Of Change.Bersama keempat orang temannya Ian Hultquist (keyboards), Ayad Al Adhamy (synth/samples), Jeff Apruzzese (bass) dan Nate Donmoyer (drums) maka dibentuklah Passion Pit. Setelah merilis album Chunk Of Change mereka merilis full album “Manners”. Langsung aja kita membahas track demi track dari album yang mendapat review bagus dari Clash, Rolling Stone U.S, Allmusic.com dan NME.
Dibuka dengan “Make Light” yang bombastis dengan mengambil opening powerpop dan sedikit synth rock di sana sini, jangan lupa di pertengahan lagu mereka sedikit mengambil riff indie rock dan post punk.Vokal Michael Angelakos sangat amazing ditutup dengan bunyi-bunyian yang powerful. Riff synth menghajar opening “Little Secrets”, beat-beatnya sedikit mengingkatkan kita akan beberapa nada dari The Jackson 5, dengan adanya choir anak-anak lagu ini menjadi easy listening. Lagu kesukaan gitaris dan solois handal yaitu John Mayer,"Moth’s Wings”.Pantesan aja John Mayer suka genjrengan gitar yang indah membuka lagunya(meskipun mereka tidak mempunyai gitaris tetap), lagi-lagi sound yang megah menyelimuti lagu ini Angelakos bernyanyi dengan sangat lirih disini. Jika kamu suka sound Take That di 2 album terakhirnya maka kamu bakal nyantol sama lagu ini."The Reeling”,single pertama mereka yang sempat menjadi jawara di beberapa radio mempunyai beat yang bisa bikin kamu dance dengan musik yang ringan liriknya rada mirip sebuah penculikan "Now I’m dreaming somebody/Would simply come and kidnap me/Oh no, oh no/Everyday I lie awake and pray to God today’s the day/". “To Kingdom Come”, amat sangat ringan dengan nuansa electropop campur funk. Bagi yang sering dengerin Twentyfirst Night pasti bakal suka sama lagu ini.Sudah bosan dengan gempuran-gempuran dari Passion Pit,tenang ada “Swimming In The Flood” yang down beat dan tenang membuat kita bisa beristirahat sebentar. “Folds In Your Hands”, yang mengibaratkan Jamiroquai sedang berada di sebuah party house di Ibiza lalu bikin lagu bareng disana."Eyes As Candles”,sedikit berformat pop rock apalagi instrumen gitar dan drum makin mengukuhkan pop rocknya dan jangan lupa suara terompet yang menutup lagu ini. Lagu dari EP mereka “Sleepyhead”, teknik vokal backwards dan suara falsett dari Angelakos membuat lagu ini outstanding. Apalagi beatnya rada 80’an gitu deh. Bayangkan sebuah beat dari Spotlightnya Jennifer Hudson campur nuansa pop punk dari Dance Dancenya Fall Out Boy maka terjadilah kawin silang dan menghasilkan track “Let Your Love Grow Tall”. Penutupnya “Seaweed Song”,sangat wow dengan permainan yang slow di awal,kecepatan lagu ini tambah naik seiring berjalannya waktu. An outstanding closing.Overall,mendengar band electronic asal Cambridge ini benar-benar ciamik. Format full band sendiri membantu Passion Pit mendapatkan sound yang bagus, rocking, mengawang-ngawang, lintas genre dan amazing. Inti dari mendengarkan Passion Pit adalah dengarkan komposisinya dan lagunya, karena antara beatnya dan lagunya amat sangat kompleks namun masih dalam koridor easy listening dan gampang dicerna.Dan terbukti bahwa Cambridge bukan menghasilkan mahasiswa yang jenius tapi juga musik yang jenius. This is a worth it album.
utk Track List “Manners” click…

Read More

Album of The Day: VA - American Idol 8

Photobucket
Background
Sebenarnya banyak yang terheran2 juga, mengapa album ini dirilis dalam bentuk CD. Mengingat sejak musim ke-6 sudah tidak ada lagi album kompilasi idol, karena mereka secara nyata menjual lagu2 versi studio dari penampilan finalis setiap minggunya secara digital. Dan bekerjasama dengan iTunes mulai dari musim 7 sampai sekarang, sepertinya lumayan mengangkat nama American Idol sebagai satu ajang yang menghasilkan bintang dalam skala ‘massive’. Sebenarnya kalau dibilang kompilasi, musim 7 juga punya Lennon-McCartney Song Book yang menampilkan 12 lagu dari 12 finalis. Tapi ini hanya dirilis secara digital lewat iTunes. Jadi, untuk format CD, ini adalah rekaman menyusul musim 5 dengan judul Encore. Dan perilisan ini ditujukan untuk mendongkrak penjualan!
Lucky One
Dari daftar 12 lagu oleh 10 finalis, sepertinya kita harus mengotakkan mereka ke dalam 3 grup. Grup pertama adalah grup yang beruntung. Karena produser memilih lagu yang merupakan penampilan terbaik, atau paling ga terbaik dari mereka. Dalam grup ini ku masukkan Allison Iraheta yang membawakan lagu I Can’t Make You Love Me, Adam Lambert untuk Mad World, Anoop Desai dengan Always On My Mind, Scott MacIntyre sama Just The Way You Are dan Megan Joy untuk Walkin’ After Midnight. 2 penampilan lain yang masuk ke dalam grup ini adalah penampilan dari Matt Giraud dan Michael Sarver yang sama2 menyanyikan lagunya Michael Jackson. Human Nature dan You Are Not Alone.
un-Lucky One
Kalau yang ini emang lebih sedikit. Aku memasukkan Danny Gokey yang entah mengapa dipilihkan Stand By Me, Kris Allen yang juga entah mengapa dimasukkan dengan She Works Hard For The Money, dan Lil’ Rounds yang emang minim penampilan bagus dengan I Surrender. Memang (selain Lil) penampil yang lain masih memiliki banyak pilihan lagu yang jauh lebih baik ketimbang yang dimasukkan ke dalam kompilasi ini. Atau paling tidak, mereka merekam penampilan semi-final mereka ke dalam studio version. Dan mengingat tidak ada satu lagu pun dari tema Motown dimasukkan ke dalam album ini, maka smeua finalis sepertinya un-lucky. Karena justru dari tema motown, seluruh lagu direkam ke dengan alat musik original motown lho!
Winning Song
Ini grup terakhir, yang hanya dihuni oleh pemenang dan runner-up nya. Kris Allen dan Adam Lambert. Memang sudah direview lebih dahulu, tapi kalau kembali ingin ditandingkan, aku memilih Adam Lambert adalah juaranya. Lebih banyak energi dan lebih dapat feel nya, dibandingkan versi Kris yang mengusung isu nanggung.
Minus
Tetap aja ada kurangnya. Hihihi… Padahal musim ini berisi 13 finalis, tapi mengapa tidak ke-13-nya yang dimasukkan ke dalam kompilasi ini. Agak banyak sesal, karena menyia2kan bakat Alexis Grace juga sih. Kemudian satu lagi kekurangan album ini adalah (mengikuti album season 5) tidak ada lagu yang dinyanyikan barengan.
Conclusion
LAYAK KOLEKSI. Mengingat kaya akan bakat serta corak musik yang beda2 dari 10 finalis, album ini sangat kurekomendasikan untuk dimiliki. Ayo kita serbu toko musik, manatau dirilis terbatas!!
(Ai Hasibuan / Creative Disc Contributors)
utk track list American Idol 8 click…

Read More

Album of The Day: Chairlift - Does You Inspire You

Photobucket
Sudah pernah mendengarkan ‘Bruises’, sebuah retro-po yang ringan dan mengajak untuk sedikit bergoyang? Dengan lirik dan melodi yang sederhana, tapi Chairlift, band pengusung lagu tersebut, rasanya mampu mengajak semua orang untuk menyukai lagu tersebut. Tidak heran lagu itu menjadi soundtrack untuk iklan iPod Nano generasi keempat.
Pada akhirnya, saat ‘Does You Inspire You’, album debut mereka keluar, kita menjadi tidak sabar untuk mendengarkan lagu-lagu catchy lain yang sejenis. Sayangnya, kalau kita mengharapkan untuk mendengarkan lagu-lagu setipe itu, maka kita akan merasa kecewa sekali. Oleh karenanya, jika alasan kita mendegarkan album ini hanya gara-gara ‘Bruises’, maka batalkan saja niat untuk memilikinya! Saya bersungguh-sungguh.
‘Does You Inspire You’ adalah sebuah album elektro-pop yang bertendensi kepada trip-hop, jadi, selain ‘Bruises’ lagu-lagu yang ada di album ini cenderung moody dan gloomy serta atmosferik. Dibuka dengan ‘Garbage’, maka lagu yang mengandalkan vokal Caroline Polachek yang menyeret-nyeret dan didukung dengan musik yang gelap. Rasa tidak nyaman akan segera kita rasakan kalau kita tidak menyukai jenis musik seperti ini. Selanjutnya ada ‘Planet Health’ yang sama moody-nya, namun memakai pendekatan pop 80-an. Kalau dulu sering mendengar musik-musik Betharia Sonata, Dian Phisesa atau artis sejenisnya, maka pasti ketukan drum di musik ini yang memakai pola hasil synthesizer yang sama, akan mengingatkan hal itu. ‘Earwig Town’ dibuka dengan petikan gitar ala musik James Bond, namun sebenarnya ini adalah sebuah elektro-pop yang subtil. Setelah ‘Bruises’, maka kita mendegarkan ‘Somewhere Around Here’ yang mengaluh lembut dan vokal Polachek ditingkahi oleh vokal Aaron Pfenning yang juga gitaris band ini. Mereka melirihkan nyanyian dengan penuh perasaan, sehingga rasanya sulit untuk tidak menyukai lagu ini. ‘Evident Utensil’ adalah single kedua yang mereka rilis dan ini termasuk langkah komersil yang wajar, karena lagu ini adalah sebuah pop yang riang dan mampu mengajak untuk bergoyang. Selanjutnya ada ‘Territory’ yang terasa sangat berat dalam ambience-nya dan vokal Polachek seolah-olah mengingatkan akan kegetiran ala Tori Amos namun juga mengingatkan akan gaya bernyanyi Sarah McLachlan. ‘Flying Saucer Hat’ tidak terdapat dalam rilisan album ini sebenarnya, namun untuk Indonesia, kita mendapatkan bonus tambahan dua lagu. Ini adalah sebuah lagu ringan yang riang tapi dinyanyikan dalam bahasa Perancis yang sempurna oleh Polachek. Sedang ‘Make Your Mind Up’ bernuansa new-age dengan sentuhan instrumen tradisional, meski sebenarnya tidak kalah gloomy dibandingkan ‘Terriory’. Bersama, mereka adalah lagu-lagu terberat dalam album ini.
Selanjutnya kita akan mendengarkan bonus trek yang kedua, ‘Dixie Gypsy’, yang kali ini mengandalkan vokal Pfenning sebagai kekuatan utama. Pfenning beraksi kembali dalam ‘Don’t Give A Damn’ , hanya saja kali ini ia berduet dengan Polachek. Secara pribadi saya sangat menyukai lagu yang sangat bernuansa minimalis ini, meski hanya diiringi oleh instrumen yang sangat terbatas namun terasa optimal dalam jenialitasnya. Sama halnya dengan ‘Somewhere Around Here’, maka ini adalah jenis lagu balada yang mengalun lembut dan dipenuhi oleh unsur retro-pop. ‘Chameleon Closet’ adalah instrumental yang sangat psychedelic, dan rasa-rasanya bisa dipakai sebagai musik latar film-filmnya David Lynch, karena nuansa absurditas yang kental, yang tujuan sebenarnya adalah pengantar untuk trek terakhir, ‘Ceiling Wax’ yang sangat dreamy dan mengambang, sebagai penutup yang rasanya tepat untuk menggambarkan album ini secara keseluruhan.
Nah, itulah ‘Does You Inspire You’, sebuah pengalaman musikal yang atmosferik. Pop, akan tetapi ini bukan dari arus utama. Seharusnya ‘Bruises’ sudah mengindikasikan itu, karena meski ringan namun nuansa indie kental sekali terasa di single tersebut, sehingga rasanya aneh jika kita mengharapkan hal yang sama untuk lagu-lagu lainnya.
Chairlift pada mulanya adalah proyek eksperimental duet Pfenning dan Polachek saat masih berada di Universitas Kolorado, Amerika. Setahun kemudian, bersama basis mereka, Kyle McCabe, merekam EP pertama mereka, ‘Daylight Savings’. Setelah mereka pindah ke Brooklyn, New York, mereka mendapatkan kontrak untuk menggarap album penih dibawah Kanine Records. Mereka adalah kumpulan yang mengusung musik elektronik, dan seperti umumnya band sejenis, varian musik yang mereka tawarkan memang tidak umum dan tersegmentasi pastinya. Akan tetapi namun rasanya itu tidak menghalangi mereka untuk membuat musik-musik yang bagus. ‘Does You Inspire You’ adalah contohnya. Sangat direkomendasikan untuk penyuka aliran alternatif.
(Haris / CreativeDisc Contributors)
utk Track List “Does You Inspire You” click…

Read More

Album of The Day: Noisettes – Wild Young Heart

Photobucket
Mungkin banyak yang belum mengenal indie rock band asal Inggris yang satu ini. Band ini digawangi oleh trio Shingai Shoniwa (vokal, bassis), Dan Smith (vocal latar, gitaris) dan Jamie Morrison (drumer). Bagaimana dengan lagu-lagu mereka? Well, mereka sebenarnya telah merilis dua album. Album pertama mereka ‘What’s The Time Mr. Wolf?’ telah dirilis tahun 2007 lalu. Sedangkan album ‘Wild Young Hearts’ ini adalah album kedua mereka yang dirilis April 2009. Sebenarnya lagu-lagu mereka cukup berkarakter. Mungkin itu sebabnya ‘Scratch Your Name’ dari album pertama mereka dipilih sebagai musik latar untuk season finale serial ‘The Sopranos’ tahun 2007 lalu. Bagaimana dengan lagu-lagu dari album kedua ini? Well, ‘Wild Young Hearts’ ternyata terpilih sebagai musik latar untuk iklan Danone akhir 2008 lalu. Sementara ‘Don’t Upset The Rhythm’ terpilih sebagai musik latar untuk iklan Mazda awal Januari 2009 lalu.
Mendengarkan lagu-lagu Noisettes di album ini kita akan merasakan irama musik yang cheerful tapi tidak monoton. Ada beberapa lagu yang upbeat yang cocok digunakan dalam mengawali hari Anda seperti ‘Don’t Upset The Rhythm’, ‘Wild Young Heart’,
‘Beat Of My Heart’, ‘So Complicated’ dan ‘Saturday Night’. Mendengarkan album ini secara keseluruhan membuat kita merasakan dinamika musik Noisettes. Tembang pembuka ‘Sometimes’ memang terkesan simply folk yang sendu. Tapi Noisettes berhasil membuat berbagai warna dalam album ini. ‘So Complicated’ sedikit mengingatkan pada Amy MacDonald meski bedanya pada vocal Shingai Shoniwa yang lebih soulfull dan black. Menarik bukan? Bayangkan Irish folk country dipadukan soul yang lebih black. Yang juga menjadi kejutan adalah track ‘Saturday Night’ yang mendapat sentuhan electro dan disco membuat lagu ini begitu catchy. Sementara komposisi ‘Never Forget’ sendiri sangat soulfull dan Motown-ish, begitu nikmat untuk didengarkan. Nikmatnya mendengarkan Noisettes, Shingai bukan hanya mampu menginterpretasikan lagu-lagu upbeat dan mid tempo dengan baik, tapi juga yang slow dan soft macam ‘Atticus’, ‘Every Now And Then’ dan ‘Cheap Kicks’ yang megah. Jadi tidak ada alasan untuk tidak memiliki album Noisettes ini. 
(Timmy / CreativeDisc Contributors)
utk Track List “Wild Young Heart” :

Read More

Album of The Day: Owl City - Ocean Eyes

Photobucket
Review By Luthfi.
Bertempatkan di sebuah ruang bawah tanah di rumah orangtuanya, Adam Young a.k.a Owl City membuat sebuah musik elektronika yang sangat menawan. Influence dia sendiri memang musik-musik elektronik dari Eropa, irama synthpop 80-an dan new wave. Dari sebuah basement dia mengeluarkan EP yang berjudul Of June di 2007 dan sebuah full album bertitel “Maybe I’m Dreaming” di 2008. Setelah menjadi top artist of unsigned label di Myspace dia langsung meneken kontrak dengan label Universal Republic dan langsung mengeluarkan album keduanya berjudul “Ocean Eyes”.
Dibuka dengan “Cave In” yang sangat pumping, beatnya sendiri sedikit mirip dengan band Indonesia yaitu Rock n’ Roll Mafia, "Please take a long hard look through your text book / ‘Cause I’m history’ liriknya sendiri agak narsis.
“The Bird And The Worm” sangat ‘rame’ dari segi instrumennya ada piano, gitar, cello dan lonceng, lagu ini juga catchy dan enak sekali didengar di setiap kondisi dan mood. “Hello Seattle”, menghentak dengan tambahan greeting "Hello Seattle / I am a mountaineer / In the hills and highlands / I fall asleep in hospital parking lots / And awake in your mouth" lagu ini cepat nyantol di telinga dan bisa membuat yang mendengar jadi addicted. Musik elektronik tak lengkap jika tak ada unsur partynya, “Umbrella Beach”, bernuansa House music dan Adam Young seolah menjadi DJ profesional seperti Tiesto atau David Guetta sekalipun. Beat lagu ini mengingatkan saya akan beat-beat Madonna di “Confessions On A Dance Floor” dan Kylie Minogue. Oke, minta yang rada mellow Adam Young telah menyiapkan “The Saltwater Room” yang down dengan diiringi gitar yang crunchy, dengan vokal cewek di belakang (barangkali ini suara Adam sendiri yang ditinggikan). Piano + synth = “Dental Care”, lagu ini berisi tentang seseorang yang berada di dalam ruang praktik dokter gigi. "I’ve been to the dentist / A thousand times, so I know the drill / I smooth my hair, sit back in the chair / but somehow I still get the chills”. Kayaknya kamu pernah ngerasain hal yang sama kayak si Adam (terutama yang berbehel dan sering kena sakit gigi). Dan juga ada ucapan lucu di lagu ini "When hygienists leave on long vacations / That’s when dentists scream and lose their patience".
“Meteor Shower”, lagi-lagi lagu ini bernuansa down beat dan cukup sendu dimana piano lagi-lagi menyertai lagu ini. Suara dia disini mirip John Veselly pentolannya Secondhand Serenade. Jika sudah sering mendengar lagu-lagu Indonesia pasti cepet masuk deh lagu ini di telinga. “On The Wing” yang panjangnya 5 menit dimana dia memasukkan biola dan cello yang dengan mudahnya berbaur dengan synth. Lagu ini cukup bernuansa orkestra. His first single “Fireflies”, cukup potensial untuk dijadikan hits. Mengambil sedikit beat dari band Phoenix maka terciptalah lagu “The Tip Of The Iceberg” (suara Adam beda banget dibandingkan dengan lagu yang sudah kita dengarkan). “Vanilla Twilight”, mengingatkan saya sama “No Air” dari Jordin Sparks. Ditutup dengan “Tidal Wave” yang seolah lagu remix dari band britpop/dance, a nice closing.
Jangan lupa dicicip bonus tracknya seperti Hello Seattle (Remix) yang lebih panjang dibanding sebelumnya dan danceable dan “If My Heart was A House” yang easy listening. Dia sendiri bilang bahwa musiknya sendiri hasil dari insomnia. Well, terlepas dari itu Owl City membuktikan bahwa membuat musik yang bagus tidak selalu harus berat dan susah tapi menyenangkan dan sesuai dengan mood. Ini direkomendasikan buat kamu yang bosan dengan Pet Shop Boys yang sekarang dan yang lagi demen sama La Roux.
utk track list “Ocean Eyes” click…

Read More

Album of The Day: Daughtry - Leave This Town

Photobucket
Menyesal tidak menang pada American Idol (AI)? Sekilas mungkin ia pada apa yang dialami Daughtry sebelumnya. Tetapi setelah merilis debut album pertamanya dibawah RCA, dan mengetahui penjualan albumnya mengalahkan penjualan album anggota AI lainnya, tampaknya Daughtry boleh berbangga hati. Untuk pertama kalinya juga, ia berhasil masuk nominasi Grammy. Selain menjadi penulis pada album ini, penggarapannya juga dibantu beberapa musisi handal seperti Chad Kroeger dari Nickelback, Trevor McNevan dariThousand Foot Krutch, Jason Wade dari Lifehouse, Adam Gontier dari Three Days Grace, dan Eric Dill dari The Click Five. Chris Daughtry sendiri bertindak sebagai vokal utama dan membawakan gitar dibantu oleh Josh Steely pada posisi gitar utama, Brian Caddock juga pada posisi gitar, Josh “JP” Paul pada bas dan backing vokal serta Joey Barnes diposisi drum, perkusi, backing vokal, serta keyboard.Tidak banyak yang bisa dikatakan pada album ini, selain mendengarkan musik rock dan beberapa slow rock sepanjang 12 lagu tersebut. Dibuka dengan ketiga lagu yang dipakai oleh ESPN, yakni “You Don’t Belong” bercerita tentang kebohongan dan kegagalan dalam suatu hubungan, cukup lumayan untuk track pembuka. “No Surprise” sebagai single pertama yang dirilis sangat saya nikmati dan ditambah dengan “Every Time You Turn Around” dimana ketiga lagu ini dipakai oleh ESPN untuk mempromosikan program olahraganya. Lalu bagaimana dengan mid tempo alias slow rocknya? coba dengarkan “Life After You” sekilas mirip single “Home” dari albumnya yang pertama. “Tennessee Line” satu-satunya track yang benar-benar slow dan dibawakan dengan backing vokal Vince Gill, yang juga memegang gitar, namun tidak bercerita tentang kampung halamannya, ditutup dengan “Call Your Name” single rock ballad ini sangat pas dijadikan sebagai penutup, namun agak berat ketika menikmati menit terakhir. Nampaknya tidak terlalu banyak perubahan pada album ini, namun mendengarkan album ini secara terus menerus akan sangat membuat jenuh. Berkat dukungan musisi handal membuat album ini menjadi lebih matang, dimana vokal Daughtry terus mengalami kemajuan. Bagi yang sudah kangen dengan band dengan vokalis cowok plontos ini, “Leave This Town” boleh kalian dapatkan di toko musik terdekat.
(Joe Ari Shasta / Creative Disc Contributors)
Untuk Track list “Leave This Town” click: 

Read More

Album of The Day: Hannah Montana 3 Soundtrack

Photobucket
Review By Ai.
Sambutlah satu lagi karya musik sebagai souvenir dari hit series Hannah Montana, yaitu sebuah album soundtrack berisi 14 lagu yang dikemas dengan judul Hannah Montana 3 The Songs From The Hit TV Series. Soundtrack musim ke-3 serial TV yang udah mulai tayang sejak 2006 ini kayaknya akan menemui season finalnya di musim 4. Karena ternyata syuting untuk season 4-nya sudah dimulai. Mematahkan pernyataan Miley sebelumnya yang menyatakan bahwa Season 3 adalah season terakhirnya.
Sekarang saatnya kita mengulas album soundtracknya ini. Ada 2 lagu yang berasal dari album Hannah Montana The Movie Soundtrack, yaitu Let’s Do This dan Let’s Get Crazy. Keduanya emang lagu remaja yang bagus dengan iringan chic band khas dan lirik yang youth! Hannah Montana juga merilis ulang lagu If I Were A Movie dari soundtrack pertamanya bersama Corbin Bleu dan mengubah judulnya menjadi If We Were A Movie.
Yang benar2 bikin kita gregetan enggak tahan adalah Hannah Montana yang menampilkan sensasi pop David Archuleta untuk membawakan satu lagu berjudul I Wanna Know You. Suka suka suka suka sekali aku pada lagu ini. Karena lebih lagu pop ini sangat catchy dan nge-blend gaya bermusik Archie dan Montana. Kalau mau versi solo-nya Hannah Montana aja juga disediakan di album ini. Kamu bisa bandingkan lebih suka mana, tapi aku jamin semuanya pasti milih yang ada Archie-nya.
Satu credit khusus adalah untuk nama2 orang yang memproduseri album ini. Benar2 sekampung yang ikutan. Kara DioGuardi, Mitch Allan, Matthew Gerard, Marti Frederiksen, Adam Watts, Antonina Armato, The Collective, dan masih banyak lagi. Ini bisa sedikit membuktikan bahwa album ini emang dibuat semakin lama semakin matang! Seperti di beberapa lagu, Hannah Montana sepertinya tampil mengusung gaya country-nya Miley. Dengarkan Mixed Up, Every Part Of Me, dan Don’t Wanna Be Torn. Lebih dewasa dan berciri Miley.
Ada juga lho performer lain di album ini. Dialah Mitchel Musso. Sejak 2008 lalu dia memang sudah mulai nyanyi, dan sejalan dengan perilisan albumnya di tahun 2008 ini, maka enggak ada salahnya dia ikutan nyanyi di soundtrack Hannah Montana 3 ini kan? Lagunya berjudul Let’s Make This Last 4ever dan enggak termasuk di album solo perdananya kog. Jadi berasa aja eksklusifnya. Dan terakhir, single ke-3 dari album ini sudah dirilis berjudul Ice Cream Freeze (Let’s Chill) adalah satu lagu ceria yang bikin ketagihan! Dengarkan sendiri sendasi cool-nya dan selamat ber-chill ria!!
utk Track List “Hannah Montana 3 Soundtrack” click…

Read More

Album of The Day: Little Jackie - The Stoop

Photobucket
Review By Timmy.
Little Jackie ini merupakan duo yang beranggotakan Imani Coppola, vokal, dan programmer Adam Pallin. Sementara lagu-lagu di album ini sebagian besar ditulis oleh Imani Coppola bersama Mike Mangini yang pernah menulis lagu untuk Joss Stone. Nama duo mereka terinspirasi dari judul lagu hit tahun 1989 berjudul ‘Little Jackie Wants To Be A Star’yang dipopulerkan Lisa Lisa And Cult Jam. Aroma musik yang mereka usung terasa klasik sekaligus modern. Musiknya sepintas terdengar Motown-ish tapi juga ada sentuhan hip-hop yang nge-beat hingga terasa segar. Rasanya memang berbeda dengan genre Wino dan Duffy. Little Jackie lebih kental dengan groove classic disco tapi juga terasa sentuhan beat reggae. Dibuka dengan komposisi berjudul ‘The Stoop’ yang kental dengan brass section hingga terasa ceria. Begitu juga pada pada track kedua ‘The World Should Revolve Around Me’ yang juga punya beat yang up hingga komposisi ini begitu sedap untuk menemani bergoyang. Salah satu komposisi yang menjadi favorit saya adalah ‘Guys Like When Girls Kiss’. Dengan violin arrangement yang mendominasi membuat lagu ini terdengar megah. Sebenarnya lagu ini sedikit beraroma feminisme. Liriknya sendiri menurut saya terdengar lucu. Seorang perempuan yang geram dengan mantan kekasihnya dan memutuskan akan menjadi lesbian, dan mengajak perempuan lainnya juga menjadi lesbian untuk membuat semua pria gigit jari. Coba perhatikan liriknya…
I’m gonna get with a woman Yo know I might as well
I’m a tell every single guy who be hollerin’, they could go to hell
Gonna make her my bride even tough we on the same side
Our lips gonna collide when we walk down the aisle
Gonna get with a woman and my ex’s will be cryin’
Cause the ceremony all set but it won’t be so bad
I don’t mean to diss I know I’ll be missed
Anyways, guys like when girls kiss

Komposisi lagu di album ini memang didominasi oleh lagu-lagu bertempo mid hingga up. Bahkan untuk komposisi yang cenderung slow malah terasa mid tempo. Cara bernyanyi Imani Coppola yang antara nge-rap dan scatting membuat karakter sendiri. Seakan-akan LJ tidak memberi sedikit kesempatan berlama-lama untuk cooling down dengan komposisi yang benar-benar slow, kecuali pada komposisi ‘One Love’. Album ini memang lebih tepat didengarkan saat kita berpesta atau mengawali hari.
utk Track List “The Stoop” click..

Read More

Album of The Day: Dave Matthews Band - Big Whiskey and the GrooGrux King

Photobucket
Review By Muthe.
“That’s Dave Matthews band dengan lagu funny the way it is” kata salah seorang announcer radio setelah lagu di putarkan.  Nama yang asing di telinga saya, tapi musiknya unik, klasik namun tidak basi. Cukup penasaran , saya pun meng-googling, ternyata mereka band yang sudah cukup berumur. Pantas saja tidak tahu, maklum saya tumbuh ditengah gempuran musik pop era Britney Spears dan Boyband N’sync dan BSB. Hehehe
Dave Matthews Band dengan cepat membuat saya menikmati setiap lagu yang dibawakan dengan instrumental musik yang begitu kaya dan suara khasnya yang berat (belakangan sudah jarang di dunia musik seiring pertumbuhan teknologi di dunia musik).  DMB menggabungkan nuansa rock klasik dan modern, serta perpaduan musik folk dan jazz. Cobalah merasakan hal itu di lagu yang amat bersemangat dengan judul unik ‘Alligator Pie’. Yep, beberapa Judul lagu di album “Big Whiskey and the GrooGrux King” menarik perhatiaan seperti favorit saya ‘Shake Me Like A Monkey’. Mendengarkan intronya seolah berada dicafe Rock tahun 70’an dan melihat mereka mengenakan suite ketika sedang tampil untuk ratusan penggemar wanita yang histeris. You can imagine Setting dreamgirls movie, its sound like that!
Aroma Soul dan Rock tidak lepas sepanjang album dengan Cover yangmenyita perhatian ini. Track Lying In the Hands of God adalah lagu slow dengan musik latin yang di mix dengan timur tengah,serta sedikit bumbu rock. ‘Dive In’, lebih bercirikan musik slow abad 21 bersama dentingan piano, permainan biolanya dan petikan gitarnya begitu juga track Spaceman dengan tempo sedang.
‘Why I am’ bercerita tentang keseluruhan album, mengenai kematian sang Saxophonist LeRoi Moore..Lagu sensitive yang dibawakan dengan musik seolah-olah menyenangkan, tapi sebenarnya pretty heart breaking . “And when my story ends, it’s gonna end with him/Heaven or hell/I’m going down with the GrooGrux King.”
Track lain yang WAJIB di dengarkan adalah ‘Baby blue’. Pure musik akustik yang romantic dibalut lirik sedih yang bisa membuat ‘melt down and fly away’. last but not least yang tidak boleh terlewatkan ‘You & me’ . suara gemericing di belakang akustik gitar amat tempting untuk mendengarkan sampai selesai. Namun beberapa lagu nya membutuhkan waktu yang lama untuk di cerna seperti ‘Squirm’, lagunya seram.hiiiii
Berbagai instrument yang di pakai begitu menyegarkan alat pendengaran saya setelah keseringan mendengarkan lagu beraliran techno-pop. Mereka bertahan mengguunakan kesinambungan alat musik sederhana mereka, namun menciptakan musik yang rumit, luar biasa, dan membuat saya gemas bagaimana harus menggambarkan musikalitas yang dimiliki album Ketujuh dari Dave Matthews Band ini.
utk Track list “

Read More

Album of The Day: Eric Benet – Love & Life

Photobucket
Review By Timmy.
Publik Indonesia sebagian besar mungkin baru mengenal Eric Benet karena hubungannya dengan mantan istrinya, Halle Berry. Dilanjutkan dengan single ‘Hurricane’ yang mulai mengangkat namanya. Sebenarnya Benet sendiri sudah merilis album pertamanya sejak tahun 1996, ‘True To Myself. Album ‘Love & Life’ ini merupakan studio album Benet yang kelima. Benet sendiri di album ini masih setia dengan jalur R&B dengan sentuhan soul konteporer.
Sebenarnya album Bennet kali ini terasa agak monoton. Entah mungkin karena sebagian besar tempo lagunya yang slow dan soft. Yang lebih mid tempo hanya ‘Weekend Girl’, ‘Don’’t Let Go’, ‘Iminluvwichoo’, ‘Spanish Fly’, serta ‘Sing To Me’.  Memang lagu-lagu Benet nampaknya lebih tepat jika didengarkan saat candle light dinner yang romantis. Sebenarnya lagu-lagunya bukan tidak enak tapi nampaknya Benet selain kurang bereksplorasi juga mengatur susunan lagu di album ini kurang tepat hingga terasa monoton. Komposisi yang menarik perhatian saya adalah ‘Still I Believe’ yang mendapat secuil sentuhan electro dan dance. Gaya bernyanyi Benet di situ juga sedikit ngerock. ‘Everlove’ juga menarik untuk didengarkan. Duet yang manis antara Bennet dan Terry Dexter membuat lagu ini terasa sedap di telinga. Album ini memang lebih kental dengan nuansa R&B. Tapi jangan membayangkan seperti album Ne-Yo. Album ini jauh lebih berat dibandingkan Ne-Yo yang lebih ngepop.
utk Track List “Love & Life” click…

Read More

Album of The Month: The Black Eyed Peas - The E.N.D

Photobucket
Review by Haris.
Rilisan terbaru kuartet Black Eyed Peas (B.E.P.) berjudul ‘The E.N.D.’. Wah, bisa saja kemudian kita berfikir, jangan-jangan ini album terakhir mereka! Namun, ternyata E.N.D. itu adalah akronim dari ‘The Energy Never Dies’. Mungkin ini hanya teknik marketing saja. Dan sepertinya berhasil, karena banyak yang menjadi penasaran dengan materi album studio kelima mereka ini, apalagi dengan dirilisnya single ‘Boom Boom Pow’ sebagai teaser yang ternyata meledak dan nge-hits itu.
Yep. Yep. Di album mutakhir mereka ini mereka menawarkan enerji yang meledak-ledak disepanjang 15 trek (atau 16 untuk edisi Indonesia) dan rasanya enggan untuk mati, seperti yang disebutkan dalam judul album. Jika mengutip lirik dalam trek ‘Imma Be’ berikut: “Imma be, rockin that Apl.de.ap infinate / BEP we definite / We on some next level shit / Futuristic musically / Mind will fold with energy / For the soul new-sonicly / Sending positivity", maka sudah jelaslah tergambar dengan solid apa dan bagaimana materi yang ingin diusung B.E.P. dalam ‘The E.N.D.’ ini.
Album ini berisikan lagu-lagu yang menghentak, nyaris tiada henti untuk slow-tempo, antemik dan, mengutip istilah Timmy, kupinggenic. Kita dapat dengan mudah bergoyang-goyang mengikuti hentakan setiap lagu. Jika tujuan mereka membawa keceriaan dengan album ini, maka mereka berhasil. ‘Boom Boom Pow’ membuka dengan megah, disusul nyaris tanpa jeda oleh ‘Rock That Body’. ‘ Meet Me Halfway’ mengantar kita akan aura feminitas Fergie. Disambung dengan ‘Imma Be’ yang sangat antemik dan memenuhi segala syarat untuk menjadi tembang top 40. Akan tetapi, yang sebenarnya juga mencuri perhatian setelah ‘Boom Boom Pow’ adalah ‘I Gotta Feeling’ yang sangat bernuansa lantai dansa. Iramanya begitu catchy, sehingga susah untuk tidak menyukai lagu ini.
Selanjutnya, ‘The E.N.D.’ menawarkan lagu-lagu setipe, sebut saja ‘Missing You’, ‘Ring-A-Ling’, ‘Party of the Time (ehm, this song defenitely make a nod to the album)’, atau ‘Now Generation’. Untuk trek ‘Now Generation’, will.i.am seolah-olah menyindir trend yang tengah berlangsung di tengah-tengah orang muda di sekeliling dunia, yaitu demam situs jejaring sosial seperti Facebook, yang begitu mengkonsumsi kehidupan seseorang.
Sementara itu, ada satu trek yang mengingatkan akan ‘Where’s the Love’, yaitu ‘One Tribe’ yang seolah-olah ditujukan sebagai antem untuk perdamaian dunia dan menghimbau untuk adanya satu kesatuan bagi seluruh penduduk Bumi. Yah, terlepas dari kedua lagu tersebut, ‘The E.N.D.’ pada dasarnya adalah sebuah arena ekspresi bagi will.i.am, pentolan grup ini, untuk bereksperimen dengan berbagai bunyian untuk mengejar sound-sound yang gempita dan menghentak dan juga antemik tadi.
Ohya, bonus lagu untuk edisi ini adalah ‘Mare’ yang mengingatkan akan ‘Bebot’ di album ‘Monkey Business’, karena memerkan kemahiran apl.de.ap dalam rapping dengan memakai bahasa tagalog. Ini mungkin sebuah homage untuk darah Filipinanya. Sesuatu yang menarik.
Di hampir semua lagu, kita bisa mengkategorisasi mereka dalam dua dikotomi; 1) jenis lagu yang mengandalkan kedigjayaan rapping will.i.am, apl.de.ap, dan Taboo yang ditingkahi oleh raungan musik elektrik, 2) jenis lagu elektro-pop-dance ala Fergie, oopps, Fergie ternyata anggota B.E.P. juga!
Yah, terlepas siapa yang menjadi vokal utama dalam trek-treknya, ujung-ujungnya B.E.P. seperti mengejar setoran dengan memberi sebanyak-banyaknya trek yang antemik, sehingga para pendengar dan penggemar terpuaskan. Sayangnya, mereka sepertinya kemudian tidak perduli lagi jika umumnya lagu mereka dangkal dan cheesy, karena yang penting disini adalah ‘The E.N.D.’ mampu memuaskan dengan stamina penuh.
Sebenarnya ini bukan sesuatu yang mengherankan bagi kuartet ini, karena semenjak Fergie bergabung pada album ketiga, ‘Elephunk’ ditahun 2004 kemarin dan diikuti dengan ‘Monkey Business’ di tahun 2005, lagu-lagu bubblegum pop yang ngehits sudah menjadi trademark bagi B.E.P. Yah, istilahnya mungkin kejar tayang eh setoran lah. Terlepas dari itu, tetap saja ‘The E.N.D.’ adalah album yang juara karena ditunjang oleh sisi teknis kelas satu. Dan ini pastinya karena didukung oleh will.i.am yang jelas salah satu yang tebaik untuk bidangnya. Sedang Fergie pun masih kredibel dengan kualitas vokalnya sebagaimana halnya Taboo dan apl.de.ap yang kebagian tugas nge-rapp.
‘The E.N.D.’ adalah album yang fun. Antemik pastinya. Wajib punya untuk kalangan fans. Dan boleh dikupingi jika ingin berada dalam suasana party yang gemerlap. Mungkin album ini kedengaran ‘cheesy’, akan tetapi bukan menjadi masalah selama itu beriringan dengan kata ‘bagus’, untuk menggambarkan album ini. And yes, it’s cool, baby! Another highly recommended by the Black Eyed Peas.
utk Track List “The E.N.D” click…

Read More

Album of The Day: Hannah Montana The Movie Soundtrack

HannahMontanaMovieSoundtrack
Review By Ai.
Viva La Miley Cyrus… Akhirnya Hannah Montana diangkat ke layar lebar setelah kesuksesan luar biasa sebagai hit Disney Channel. Dan sejalan dgn film nya, maka pastilah dirilis juga album soundtracknya. Hannah Montana The Movie Soundtrack ini sebenarnya adalah campuran aliran musik country dan pop yang diusung oleh Miley Cyrus sebagai dirinya sendiri maupun sebagai Hannah Montana. Keduanya udah jadi superstar!!
Dibuka dgn lagu pop rock ‘You’ll Always Find You Way Back Home’. Hannah Montana menghentak dgn lirik yang sangat bermakna. You can change your hair, your clothes, your style, tapi tetap aja balik2nya kembali ke exactly who you are. Bagus dech pesan yang disampaikan oleh lagu ini. Ada Rascal Flatts lho..... Lagu berjudul ‘Bacwards’ versi akustik. Ya ampun… Lagunya LUCU SEKALI!! My fave!! Trus lagu terbaru papahnya Miley dari album terbaru yang berjudul sama juga, yaitu ‘Back To Tennessee’ cukup representatif juga untuk film yang katanya bakal mengisahkan Miley harus memilih menjadi dirinya sendiri atau Hannah Montana ini.
Nama lain yang ikutan merame2kan album soundtrack ini adalah sensasi country baru Taylor Swift. Ya, new best friend dari Miley ini membawakan lagu ‘Crazier’. Bagaimana lagunya, suer bagus banget. Bagaimana vokalnya? Sedikit aneh. Satu versi akustik lagi dr Rascal Flatts lagi. ‘Bless The Broken Road’ adalah lagunya. Siapa yang ga tau ama lagu ini coba? Keren juga!! Hannah Montana juga tampil dgn lagu2 lain seperti ‘Let’s Do This’, ‘Spotlight’, dan ‘What’s Not To Like’. Semuanya sound pop rock manis dan ringan. Enggak ada yg terasa ‘berat’.
Siapa sih Steve Rushton??? Dia kog ikutan nimbrung di album ini? Usut punya usut, Steve adalah keluarga baru Disney dgn pelucuran ‘Everything I Want’ dan ‘Game Over’. Gimana hasilnya? Satu track reggea influence dan satu lagi track rock country yang enggak forgettable. Bagus dan enggak ketinggalan dr nama2 yg udah biasa kita dengar di album ini. Sukses dech klo emang niat awal untuk memperkenalkan Steve ke dunia musik internasional dgn proyek soundtrack ini.
Track2 yang paling aku recommend :
1. Best Of Both Worlds - Mungkin udah agak bosan ya? Versi awal, versi live, skrg versi 2009. Bagaimana lagunya? Klo aku bilang masih enggak jauh beda, tapi emang dasar lagunya yang enak, digimanain juga tetap suka!
2. Butterfly Fly Away - Duet bapak-anak ini kembali memberi sesuatu yg nge-blend. Suara yang dikasih dengar ama Miley nyampur aja dgn suara sang papah. Suka!!
3. Hoedown Throwdown - So teen and so fresh!! Suara banjo dan alunan biola yang penuh semangat. Luar biasa!!
4. The Climb - Semua juga setuju kalau Miley mulai mengalami ‘naik kelas’ dalam karier bermusiknya!! Makin eksis!!
5. Dream - Lagu yg awalnya direkam Diana DeGarmo yg musik yg masih sama dgn versi Miley. DeGarmo menyanyikannya dgn judul Dream, Dream, Dream, tapi Miley cukup sekali Dream aja. Klo dibandingkan??? Suara Diana udah beda tone dgn Miley, so susah membedakannya. Sama sama suka. Hihi…
utk Track List “Hannah Montana The Movie Soundtrack” click…

Read More

Page 1 of 21 pages  1 2 3 >  Last »